Moms At War: Pick Your Own Battles!

Standard

Ini bukan ajakan perang untuk para ibu. Quite the opposite, I’d say.

Sudah lama aku merasa overwhelmed dengan begitu banyaknya artikel dan catatan ilmiah maupun pribadi tentang liku-liku pengasuhan anak yang berseliweran di sosial media. Dioper dan disebarkan sesering dan semudah satu sentilan ibu jari.

Saking mudah dan cepatnya berbagi berita, kita kadang lupa (atau nggak sempat) berpikir mengenai aspek-aspek yang lazim kita pikirkan sebelum berbicara. Validitas berita, tata penyampaian dan penyuntingan berita, serta efeknya pada penerima berita.

Kadang bukan karena lupa, tapi karena nggak peduli. Kita memilih untuk nggak peduli pada aspek-aspek tersebut karena toh, bukan kita yang nulis berita itu. Just sharing. Just saying. FYI.

Tanpa menghiraukan apakah yang kita teruskan itu hoax, ataukah belum terbukti, ataukah bakal menyinggung dan bikin galau pembacanya. Because, hey, I was just sharing. It’s not mine, not my responsibility.

What a shame, ignorant people.

Kasus kayak gini terutama sangat sensitif bagi para ibu, bila menyangkut anak. Baik itu masalah kesehatan anak, cara memberi makan anak, pendidikan, dll. You name it, moms will cry over it.

Baru-baru ini adikku mendapat kiriman meme sindiran-berbulu-guyonan dari seorang kerabat dekat.

Memilukan? Menohok? Membuka mata? Menyakitkan?

Adikku memang seorang working mom. Sementara aku stay-at-home mom. Tapi bisa kubayangkan nelangsanya seorang ibu pekerja jika disodorkan satire semacam itu.

Aku memang belum lama jadi ibu. But from where I’m standing, aku bisa bilang bahwa moms are at war…mostly with themselves.

Semua ibu pasti ingin yang terbaik buat anak, dan ingin anaknya jadi yang terbaik pula. Kebanyakan ibu pasti punya idealisme tertentu untuk mencapai hal tersebut. Dan kalau ibu-ibu yang lain sama kayak aku, seringkali mereka harus berjuang keras menegakkan idealisme tersebut melawan entah kemalasan, ego, atau waktu—to name a few. Belum lagi faktor eksternal.

I have thrown a few idealisms out the window myself. And I’m a full time mom! How pathetic is that! Ada masa-masa dimana aku menyesali dan menyalahkan diri sendiri gara-gara, misalnya, gagal menjauhkan bayiku dari pacifier, gagal mensterilkan mata dan otak bayiku dari televisi, dan masih banyak lagi. I question my performance as a mom every single day. And the word “failure” never stops circling in my mind.

Bisa dibayangkan bila seorang ibu masih harus menerima kritik dan penghakiman dari orang lain (tanpa diminta). Contohnya ya ulah kerabat dekat yang mengirim pesan di atas untuk adik saya itu.

We are at war, moms. Nggak cukup kita harus bertahan hidup waras dan bahagia di dunia ini, kita pun dapat amanah yang sama untuk anak-anak kita. Sayangnya dalam perang ini nggak ada yang bisa mengklaim kemenangan atau kekalahan, kecuali mungkin Sang Pencipta—itu kalau Tuhan setuju dengan penyebutan “perang” yang kugambarkan di sini.

Barangkali kita nggak mampu meraup kemenangan itu, tapi yang bisa kulakukan di sini adalah memilih medan pertempuranku.

Entah itu konsisten memberi homemade meal, atau mengusahakan si anak doyan segala makanan. Mungkin dengan disiplin menabung agar anak dapat sekolah terbaik, atau tekad memberikan homeschooling. Mau menjauhkan gadget dari anak sampai SD, atau mau breastfeeding sampai SD 2 tahun? It’s your choice, and your choice alone.

Go on and pick your battles, and make sure you win. Tapi ingat, ibu lain mungkin punya pertarungan berbeda yang sedang mereka jalani. Tidak semua ibu punya prioritas dan pandangan yang sama satu sama lain.

Sebagai penutup konten dengan judul berbau kekerasan ini, izinkan kukutip kata-kata Ellen DeGeneres di setiap penghujung talk shownya; “Be kind to one another!

Hari Pertama Sendiri bersama si Gendhuk

Standard

Semenjak pertengahan 2011 menginjakkan kaki di buminya Paman Sam, aku dan suami terbiasa hidup jauh dari keluarga. Teman jadilah saudara.

Memilih untuk tidak bekerja, aku pun terbiasa sendirian di rumah. I enjoy my moment of solitary at home. As a matter of fact, I don’t mind being by myself in (almost) any given time.
Biasanya, satu hari kubagi untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan pekerjaan pribadi (boleh lah dibilang me time, atau biar keren: usaha cari duit, ha!).

Tiga bulan lalu bayi perempuan kami lahir. Dan seperti yang sudah-sudah, perjalanan ke rumah sakit dan proses persalinan pun kami lewati hanya berdua. Tak apa. Minus pendampingan orang tua toh tidak mengurangi kebahagiaan kami.

Of course, an extra helping hand won’t hurt. Menjadi orang tua baru tanpa kerabat dekat, di negara dimana mempunyai asisten atau babysitter merupakan kemewahan yang tidak lazim, we couldn’t catch a break.

Untungnya, suami diizinkan atasan untuk mengambil cuti satu bulan tanpa gangguan (tidak ada ‘colekan’ lewat telepon maupun surel). Dan tiga minggu kemudian mamaku terbang dari Indonesia untuk menengok dan membantu merawat bayi tiga minggu kami.

Dan kini, hampir tiga bulan kelahiran Gendhuk, untuk pertama kalinya

Book Review: Konstelasi Rindu by Farah Hidayati

Standard

20140714-111127-40287780.jpgPerlu saya akui sejak awal bahwa saya punya semacam hubungan pribadi dengan kisah dan karakter dalam buku ini. Belum lagi kenyataan bahwa buku ini ditulis oleh salah satu teman baik—garis miring—unofficial writing mentor saya. 

But I assure you, saya nggak akan menulis ulasan yang berbuih-buih bin tendensius..hehe.

Jadi ceritanya, buku Konstelasi Rindu ini berasal dari embrio naskah yang dulu diprakarsai oleh Farah dan digarap bersama saya, Vicky, Firman dan Pandhu—rekan-rekan alumni kampus Arsitektur Universitas Gadjah Mada. Long story short; setelah mengalami berbagai hiatus, kendala, dan penolakan; naskah tersebut akhirnya diterima di pangkuan penerbit Gramedia dengan Farah Hidayati sebagai penulis tunggal. 

And I must say Farah melakukan banyak perombakan serta memelintir banyak plot dan konflik dalam naskah baru ini, mengemasnya dengan wajah dan jiwa baru. (Jauh berbeda dengan naskah embrio kami yang rentan penolakan dulu, hahaha).

Tokoh-tokoh yang kami berlima usung dulu masih hidup, namun dengan karakter yang lebih berwarna dan lebih menarik. Rindu, Bening, Djo, Langit, Saras, dan Sherin adalah enam mahasiswa baru di kampus Arsitektur sebuah universitas di Jogja. Sejak awal, Farah telah berhasil membuat perkenalan yang seru untuk mereka berenam. Rindu yang cuek dan jatuh cinta pada Eiffel Tower, Bening yang gaul dan setia, Djo yang kocak dan sensitif, Langit yang introvert dan berbakat menggambar, Saras yang girly dan Sherin yang rajinnya agak di luar kewarasan.

Namun yang tidak Farah buka sekaligus sejak awal adalah bahwa keenam tokoh tersebut memiliki rahasia dan impian di luar perjuangan sehari-hari mereka dalam mengumpulkan tugas sketsa, meminjam rapido teman saat bokek, dan berebut buku referensi di perpustakaan.

Tak semua mahasiswa Arsitektur tersebut punya cita-cita segamblang menjadi arsitek. Pun novel ini tidak sekadar bercerita tentang arsitektur. Rindu memilih kuliah di Jogja agar dekat dengan mamanya yang sedang sakit, meskipun itu berarti membohongi abahnya. Djo diam-diam punya pekerjaan sampingan yang enggan ia ceritakan ke sahabat-sahabatnya. Sementara Langit tampak lebih tertarik pada hobinya daripada kuliah. 

Dan ada banyak lagi permasalahan anak muda yang sedang mencari jati dirinya di novel ini. Selain itu, tentu saja, ada persahabatan dan kisah cinta yang tak pernah ketinggalan membumbui kehidupan para mahasiswa. The interesting bits and facts about Architecture in this book are bonus for those of you interested in becoming an architect!

Sesuai judulnya, dapat ditebak jika sentral kisah ini adalah tokoh Rindu. Tetapi Farah berhasil menganyam karakter-karakter lain beserta hubungannya dengan Rindu dengan begitu runtut dan rinci, mereka menjadi sama menariknya seperti Rindu.

Dan kabar gembiranya adalah Farah sedang mempersiapkan sekuel dari Konstelasi Rindu yang bisa diintip nukilannya di halaman terakhir. So, I’m hoping to read more about the life and love of Rindu, Bening, Djo, Langit, Saras, and Sherin!

 

NB: Embrio naskah yang saya bilang tadi tetap kami terbitkan independen dengan judul Montase. Ini dia ulasannya.

 

My Workout Songs and Why

Standard

Fair warning: I’m an old-skool and a fervent devotee. So you will not see a list of Top 40s nor modern edgy music. Frankly, Gaga and Katy Perry are currently my best attempt in appreciating the new age of music.

1. Any song from Foo Fighters.
Dave Grohl’s voice never fails me. His voice and the songs constantly fuel me up. Always have since college years when I had to pull all nighters to finish my drawing assignments.
In particular: All My Life, Breakout, Generator, Learn to Fly, Monkey Wrench, Walk.

2. Dream On by Aerosmith.

The first part of the song is mellow and in slow beat. But listening to the lyric makes me feel like I’m walking and striving in life. It somewhat motivates me to move on, stride on (the elliptical), and dream on!

3. Born This Way by Lady Gaga.

I love the energy and the message in this song. And the disco beat urges you to move those four limbs in rhythm.

4. Decadence Dance by Extreme.

They literally tell you to buy a brand new pair of Fred Astaire shoes, climb to the top, and:  “one, two, three and dec-a-dance!”

5. The Final Countdown by Europe. 

I just cannot defy this glorious and widely-acclaimed song. That won’t be wise.

6. Livin’ On a Prayer by Bon Jovi.

The intro riff, the high-notes singing, and–lo an behold–the hopeful words. I can ponder and make my life plans right there and then on the elliptical.

7. Love You Like a Love Song by Selena Gomez.

I love the whimsical beat and cute refrain. Or maybe just because i love this song…and Selena.

8. One Step Closer by Linkin Park.

It was my break-up song. And is now basically my all-angry-event song. Great catharsis, makes it perfect for a workout song–especially when you’re in a bad mood. And, hey, great song as well.

9. Starlight by Muse.

10. Supermassive Black Hole by Muse.

11. Radioactive by Imagine Dragons.

12. Run to the Hills by Iron Maiden.

13. Just Dance by Lady Gaga.

14. Firework by Katy Perry.

15. Loser Like Me by Glee Cast

Berani Menulis

Standard

Setelah selama ini (berlagak) menulis, saya menyadari bahwa menulis itu butuh keberanian. Beberapa hal yang  saya temukan itu adalah:

  1. Berani tetap resah. Sama halnya dengan proses apapun yang menuntut progres, keresahan dan kelabilan adalah bahan dasar. Karena stabil berarti mandek. Sementara keresahan menggerakkan roda pencarian akan sesuatu yang lebih. Karena itulah doa saya adalah: Semoga pergumulan kita selalu dibarui, batin kita terus disegarkan, dan tangan kita senantiasa menuliskan yang belum tersampaikan.

  2. Berani jujur. Karena meskipun sosok penulis tersembunyi di balik mesin ketiknya, nama yang tertera pada karya itu diam-diam akan menghakimi. Oleh sebab itu cobalah untuk jujur pada diri sendiri. Entah itu menyuarakan kebenaran, ataupun mendongengkan yang tak nyata; sudahkah jiwa kita penuh terkonsentrat di situ? Bagaimana kita yakin bahwa kalimat itu bukan bisikan orang lain, dan pendapat itu bukan titipan partai lain? Seringkali mengakui bahwa kita sedang membohongi diri sendiri sama sulitnya dengan mencari ide orisinil di atas bumi. Ayo kita cari tahu: Sudahkah kita jujur pada tulisan kita hari ini?

  3. Berani telanjang. Kata-kata bisa dibalut dengan indah. Namun pembaca bisa dengan mudah melihat (atau salah paham) menembus apa yang kita tulis, dan menilai siapa penulis itu sebenarnya. Siap untuk telanjang di hadapan pembaca berarti siap untuk dihakimi, disalahartikan; tapi sekaligus juga membuka ruang bagi keindahan yang layak untuk diapresiasi. Jangan malu!

  4. Berani bertanya. Karena menulis bukan melulu bertujuan memberi jawaban atau solusi revolusioner. Kita juga harus berani membuka wacana dan mengungkap pertanyaan baru. Malu bertanya, sesat di jalan. Berani bertanya, ketemu banyak jalan.🙂

Ready to Start Over

Standard

After three months of hiatus, I’m (happily) forced to start over.

Why three months of hiatus, you ask? Because three months ago was the last time I ran my fingers on my laptop’s keyboard (or piano keys for that matter). And not long after, I also resigned from my position as a volunteer at this public library. I just shut my brain down and went to idle-mode.

And I have an excuse for that. I was trying to refrain from any strenuous activity ever since I found out that I’m pregnant. But really, the bigger reason was because I had been so anxious about what I was going through and nervous about what was going to happen; I haven’t been able to bring myself to work.

Sadly, just a few weeks after finding out about the positive result, I was told by my doctor that the little one is not going to make it and that I should be expecting a miscarriage soon. And with that, all the will to function normally that was left in me vanished. Blown away by the chilly wind of Texas’  early Spring.

Whilst in the wait, though, I received a good news. Remember three months ago? The last time I touched my laptop was the time when I submitted my fiction manuscript to one book publisher who held a fiction literature competition. Six days ago, they announced the winners via youtube video. Guess what? I’m one of them! They’re going to publish my writing!

All I can say at this point is: To say that I’m happy would be an understatement. Already, I’m building hopes and dream from this opportunity. I guess it’s something that you would automatically do, especially after a previous bad news. And since that would be something that only the future will unravel, I will not talk about it any longer.

What I can fathom so far is that these two major events occurred within such short period of my life were there for a reason. Maybe when you think that one is the end of something, it’s not necessarily that way. Maybe when something else happens and you think “This is it, this is my happy ending”, you’re just being complacent. I like to think that those events—no matter how devastating or exultant—are my chances to start something new, create new dreams.

I like to think that every occasion has multiple facets to my disposal. I can make anything of it; dead end or wake-up-call, warning or challenge, bad ending or rough beginning. Final destination or clean slate? I choose to move on and star over.

Kenalin: Montase – Kumpulan Cerita via nulisbuku.com

Standard

Cover Montase

Cover Montase

Dear pengunjung yang hanya mampir atau tak sengaja mencet halaman ini,

Izinkan saya memperkenalkan sebuah buku karya saya dan teman-teman kuliah (Farah Hidayati, Vicky Ariyanti, Firmansyah, dan Pandhu Arstyaputra) yang kami terbitkan sendiri melalui nulisbuku.com. Buku kecil nan ringan di otak ini kami beri judul “Montase”.

Montase; untuk menandai bahwa karya ini merupakan kumpulan tulisan, gambar, ide, dan angan-angan yang dihimpun dari lima penulisnya.

Montase; karena boleh dibilang buku ini kami rangkai dari serpih-serpih kata yang terakumulasi sejak tahun 2008-2012.

 

Kisah di Balik Kelahiran Montase

Inisiatif membuat novel keroyokan ini datang dari Farah. Tahun 2007! Saat itu memang niatan awal adalah membuat buku format novel, satu cerita utuh dengan lima tokoh utama (sesuai jumlah penulis). Judul sementara saat itu: “999″. (Bukan cerita horor)

Jarak di antara kami berlima dan waktu yang harus disisihkan untuk menulis menjadi kendala utama bagi kami. Proyek mulia atas nama angkatan 99 Arsitektur UGM ini berjalan dengan progres sangat lambat. Hingga akhirnya sempat terkatung-katung.

Pada tahun 2010; setelah naskah yang ada diacak-acak oleh Farah sang komandan, karya kami itu beralih rupa menjadi kumpulan cerpen. Yang kemudian kami ikutkan di Lomba menulis novel 100% Roman Asli Indonesia oleh penerbit Gagas Media. Dengan judul “Mozaik Arsitektur“. (Sadly we lost).

Selama 2011, Farah berusaha menjalin dan menambal tulisan-tulisan kami yang tercecer di semerata harddisk. Setelah saya sukses mengundurkan diri sebagai karyawan tetap, saya menggunakan kesempatan itu untuk ikut memberi kontribusi tulisan. Kami berdua berusaha menghidupkan kembali naskah “999” yang mati suri. Kelar, dan Farah kirimkan ke salah satu penerbit besar di Indonesia.

 

Good News, Bad News

Good news! Penerbit menerima naskah kita!

Tapi bad news: banyak plot yang harus diubah. Dan dengan demikian hampir semua “naskah orisinil” kami bakal terhapus. Akhirnya Farah seorang saja yang melanjutkan perjuangan tokoh-tokoh “999” menuju rak toko buku.

 

Voila!

Tapi sayang, kan kalau tulisan kami sekian tahun itu ditimbun begitu saja di perangkat keras komputer? Karena itulah, tulisan-tulisan tersebut kami pilah, asah, dan kumpulkan menjadi buku “Montase” yang kami terbitkan sendiri ini.

Meskipun dengan nama karakter yang berbeda, plot yang bertumbuh dan bercabang, kumpulan cerita “Montase” ini tetap berjiwa arsitektur seperti yang semula kami junjung—sebagai latar belakang. Pada pokoknya, “Montase” menggambarkan babak-babak hidup enam anak muda dalam merajut cita-cita, cinta, dan hidup saja.

And here we are!

Montase bisa diperoleh di http://nulisbuku.com/books/view/montase . Atau bisa dipesan dengan mengirim email ke: admin(at)nulisbuku(dot)com. Sertakan jumlah buku, nama, alamat, dan nomor telepon ya!

Selamat membaca, Indonesia!