Sejak awal membaca karya terbaru Coelho ini, aku punya dugaan bahwa kisah dalam buku ini merupakan pengalaman Coelho sendiri, karena kemiripan profil tokoh utama. Toh, seperti tertulis dalam buku ini, dan perkataan dari sumber2 lain; penulis menulis apa yang pernah dialaminya.
Seperti karya Coelho yang lain, buku ini sarat pesan. Walaupun, suatu pesan hanya dapat menjadi ‘pesan’ bagi orang yang mengerti dan merasakannya, dan yang kemungkinan mengalami sedikit banyak peristiwa yang dikisahkan.
Kisah dalam Zahir ini berkisar tentang pernikahan, cinta, jati diri. Tentang bagaimana suatu individu menjadi sosok pribadinya dalam lingkup pernikahan, bagaimana pengembangan diri dapat bertumbukan dengan kehidupan cinta dan pernikahannya.
For me personally, this book has lots of things to think about, to be aware of. Aku belum mengalami apa yang dialami oleh tokoh penulis dalam buku itu. Tapi apa yang tergambar dalam kisah tersebut merupakan cerminan kisah yang dialami pasangan suami-istri umumnya. Bahkan sampai ke hal-hal kecil, seperti ketika sang istri protes pada tokoh penulis itu tentang bagaimana ucapannya selalu tidak didengarkan oleh sang suami. Sang suami tidak tertarik dengan topik yang dibicarakan istrinya, dan hanya tenggelam dalam pikirannya sendiri tentang apa yang dia sendiri akan lakukan esok harinya. Istri yang setia itu mulai menyadari major setback yang terjadi dalam kehidupan perkawinan mereka.
Kebosanan, kesibukan, dan kepercayaan masyarakat tentang adanya aturan dan nilai..membuat mereka seakan ‘terperangkap’ dalam pernikahan tanpa kebebasan, tanpa kebahagiaan, dan tanpa mengenali lagi arti cinta yang pernah mereka rasakan. Bahkan perselingkuhan masing-masing pun tidak mereka gubris. Yang ini karena faktor kultur..paham yang ga mungkin aku petik.
Sang istri kemudian ‘memberi pelajaran’ pada suaminya, dengan pergi tanpa pesan, meninggalkan teka-teki dan kerinduan pada suaminya untuk berkontemplasi, dan melacak masa lalu yang mereka lewati untuk mengetahui kesalahan yang telah ia lakukan dalam perkawinannya, dan mencari sebab kepergian istrinya. Perjalanan sang suami yang sekaligus penulis ternama itulah yang penuh dengan renungan, baik untuk dirinya, maupun pembacanya (karena dituangkannya dalam buku)..termasuk ‘pembaca’ lain; aku.
Penulis tenar itu, yang semula nyaman dengan hidupnya yang menurutnya bebas -tanpa tau makna kebebasan itu sebebnarnya- mulai menata kembali perspektif dan pemahaman hidupnya.Menyadari bahwa kebebasan yang semula ia rasakan saat bersama istrinya berubah menjadi kesepian semenjak kepergiannya. Itulah saat Esther, sang istri menjadi sang Zahir; sesuatu yang menjadi obsesi dan tidak bisa ia lepaskan dari pikirannya.
Dari sisi lain, aku pikir kisah ini romantis. Menunjukkan keromantisan kehidupan pernikahan yang selepas 10 tahun, masih menyadari eksistensi dan cinta yang ada pada masing-masing individu (you know I always love this part). Menunjukkan bahwa pernikahan itu bukan sekedar institusi tempat kita berlindung dalam komunitas kita, tempat untuk membesarkan anak-cucu kita, dengan ‘hanya’ cinta sebagai landasan. Ini menunjukkan bahwa tiap orang perlu diingatkan untuk mencintai, karena cinta memudar seiring rutinitas dan kesibukan, dan menghilang saat orang tak peduli akan kebersamaan lagi. Seperti yang Coelho tulis; hubungan antar manusia yang paling baik terjadi saat mereka berbicara berhadap-hadapan…bukan saat duduk menonton televisi atau teater…