Tag Archives: Magnis Suseno

Yang Tak Terjelaskan

Yang Tak Terjelaskan

Dulu waktu kecil…pas SMP kali ya..aku sering berpikir tentang Tuhan. Bukan filosofis gitu..lebih secara fisik.

Kita selalu belajar tentang asal mula bumi, dengan beberapa teori yang dikemukakan ilmuwan2. Kayanya itulah awal mula ‘khayalanku’. Aku memvisualisasikan bumi yang- tarohlah-bermula dari setitik debu di angkasa (atau dari Big Bang, etc..) Angkasa kosong. Dari situlah mulai muncul serentetan kausalitas di benakku, dan dikaitkan dengan ajaran agama mengenai penciptaan. Kalo planet Bumi diciptakan (Tuhan) dari ketiadaan, begitu juga bila seluruh angkasa raya ini bermula dari kehampaan….dimana posisi Tuhan saat itu? Saat sebelum waktu terbentuk, saat jagad raya masih berupa kanvas kosong, muncul darimanakah Tuhan itu?

Sampai di situ biasanya lamunanku terhenti, karena aku ga punya jawabannya. Dan aku kembali ke realita, membawa kesan ‘hanya’ bahwa Tuhan memanglah se-Esa, se-powerful, dan sebagai sumber tunggal, yang digaungkan orang-orang dan guru-guru agama selama ini.

Atau dalam bahasa yang lebih matang dari pikiranku saat itu, bahwa Tuhan adalah zat yang terlepas dari hirarki alam raya, dan terlepas dari peristiwa kausalitas dunia.

Aku teringat masa mudaku itu, setelah membaca buku ‘Menalar Tuhan’-nya Magnis-Suseno.

Tahun 90-an waktu eksistensi Tuhan mulai sering mampir ke pikiranku, sebenarnya orang-orang di seluruh belahan bumi sejak jaman dahulu kala sudah sering merenungkan dan merumuskan masalah ketuhanan ini.

Itulah filsafat ketuhanan, yang kontroversinya melahirkan paham ateisme, dan di tengah antara keduanya muncul agnostisisme.

Belum slese baca buku ini aja, aku udah menyelami banyak pikiran baru dari para filsuf dunia. Tapi, ga usahlah masuk ke esensi buku, toh aku ga berniat nulis resensi ato summary.

Sembari membaca, aku sempat menyelami hati dan pikiranku sendiri. Sebabnya, aku menyetujui (hampir) semua paham yang terpaparkan di situ. Aku setuju bahwa eksistensi Tuhan itu tidak bisa dibuktikan secara fisik dan logis, dengan dasar sama yang melandasi teori-teori ilmiah di dunia.

Tapi, apapun yang aku setujui, tetap tidak membuatku berpikir ulang soal iman keTuhanan dan agamaku.

Mungkin karena, seperti Magnis-suseno tulis, non-eksistensi Tuhan pun tidak dapat dibuktikan. Bahwa dasar keimanan orang tidak melulu bersifat pengalaman fisik-ilmiah dan obyektif, tapi juga secara spiritual.

Bertolak dari uraian Magnis-suseno; bahwa semua wujud di dunia ini relatif, dan bahwa relativitas tidak mungkin bersumber dari relativitas, karena bila begitu maka kebenaran dan rasionalitas menjadi tidak ada.. Karena itulah, pasti ada satu hal mutlak yang menjadi sumber segala sesuatu di dunia (Tuhan?).

Uraian di atas dapat dideferensial menjadi pernyataan bahwa ketuhanan juga tak bisa semata-mata dibuktikan benar-salahnya secara ke-ilmu-an (fisik-obyektif). Selalu ada sisi lain dari manusia (spiritual-subyektif) yang bisa digunakan untuk ‘mendefinisikan’ Tuhan. Teori dan dogma apapun di dunia, entah ilmiah maupun filosofis, tetap saja relatif.

Mungkin banyak orang yang tidak ‘melihat’ Tuhan di dunia ini, tidak merasakan kehadiran-Nya, atau entah apa pendirian yang dipahami kaum ateis. Tapi aku dan juga orang-orang beriman lainnya, merasakan hal-hal yang juga tidak dapat dijelaskan secara logis, dan hanya berarti bahwa (mungkin/pastilah/mestinya) ada tangan dan kehendak mutlak yang mengaturnya terjadi.

Proporsi alam menyebabkan fenomena butterfly effects. Masih bisa dirunut secara logis.

Tapi apakah keseimbangan alam juga yang menyebabkan seorang teman lama yang semalam muncul di mimpi kita tiba-tiba hari ini berpapasan dengan kita di jalan…dan berakhir menjadi pasangan hidup kita?

Bagiku, kebetulan-kebetulan kecil yang memberi makna tertentu, bukan lagi sekedar kebetulan. Mereka adalah perwujudan kehadiran Yang Mahakuasa di hidupku, to keep me alert, to keep me aware of precious things in the world outside myself.