Semenjak tragedi 27 Mei 06 di Jogjaku yang berhati nyaman..aku ga ngerasa sama lagi sampe saat ini. Mungkin karena I was there. Ngerasain kericuhan dan ketakutan itu. Empat hari di Jogja pasca goncangan 5,9 sR itu masih dipenuhi kekuatiran, bagai menduduki time bomb. Aku jadi ngerasain betapa fragile-nya bumi yang aku duduki. Dan betapa nyarisnya nasib mengkocar-kacirkan keluarga dan rumahku. Seandainya lokasiku di Bantul, misalnya.. ato seandainya bumi memutuskan mengalirkan garis patahannya melewati rumahku.. Who knows?
Saat-saat seperti itulah yang membuat kita menyadari betapa pentingnya arti keluarga dan our loved ones. Aku inget, betapa ciut hatiku waktu itu. Ga sedetikpun aku rela keluargaku berjauhan. Kalo ada yang keluar bentar buat cari makan ato isi pulsa, aku dengan cemasnya nunggu mereka pulang.
Ehh..akir-akir ini muncul pula info resmi pasal adanya garis patahan yang membentang dari Ciputat sampe ke Kota. Dan Jakarta diramalkan akan segera menyusul kota-kota lain menemui bencana. Oalah… Ya sudahlah…
Sempet panic attack juga waktu pertama denger kabar itu. Dan sempet terlintas pikiran menakutkan waktu ngliat orang-orang di skitar. ” Bisa jadi aku ga ketemu orang ini, ato bapak itu lagi dalam beberapa bulam/minggu/hari/saat ke depan…!”
Scarry thought.
Tapi dengan pikiran itu, aku jadi lebih menghargai orang-orang, lebih mudah untuk bersikap manis dan menahan emosi. Karena aku, dan setiap orang lain di muka bumi ini berhak mendapat perlakuan baik dari sesamanya. Karena hidup ini terlalu singkat dan terlalu mudah terenggut. Kita bisa menyesali perbuatan kita kapan saja dan mungkin sudah tidak ada waktu untuk memperbaikinya.
Aku jadi lebih menghargai waktu. Setiap detik hidup kita adalah momen emas untuk dimanfaatkan. And in paradox, jangan pelit-pelit juga membuang waktu untuk sesuatu yang ingin kita lakukan for fun. We never know if we’ll have another chance to take vacation next year.. or wear our expensive perfume to the next special event.
Singkat kata, aku jadi lebih menghargai kekinian.
Bener kalo dibilang kegagalan dan tragedi selalu mengajarkan kita sesuatu. Mungkin orang yang mengalami tragedi adalah orang yang paling berpotensi untuk jadi ‘malaikat’ bagi sesamanya. Kecuali yang telanjur trauma kali… Mereka tau gimana cara memandang hidup dari segi-segi yang orang lain seringkali lupa.
Well, life goes on. Walo deep down in my heart, aku masih ciut inget hari-hari itu dan hari-hari esok yang entah datang entah tidak, aku tetep harus keep moving.
Kaya Einstein bilang, Hidup itu seperti naik sepeda. Untuk menjaga keseimbangan, kita harus tetap bergerak.
Kalo ga kaya gitu, bisa jadi gila kali yaa….