Udah beberapa lama (bulan?) ini, aku tiba-tiba kepikiran pengen nyobain..ehm, mungkin tepatnya ngrasain pengalaman menikmati fortune cookie ala Chinese food. Ya nyobain rasa cookie-nya, ya pengen tau ramalan yang tergulung di dalamnya juga.
Aku ga tertarik secara khusus soal hal-hal mistis ato ramal-meramal siy.. Tapi aku tertarik dengan keterkaitannya dengan latar belakang historis-budaya yang membawanya.
Kebetulan, akir-akir ini juga pas lagi kepikiran pengen mempelajari Tarot. Gara-gara tiap Jumat pagi nonton infotainment yang khusus menghadirkan Tarot reader untuk menggali rahasia kehidupan seleb (penting gituh? – Tapi for the record, jawaban2nya emang wajar dan masuk akal siy)
Yah, terlepas dari valid ato enggaknya statement yang keluar dari pembaca kartu itu, these Tarot cards intrigues me.
Back to the fortune cookies..
Akirnya, malam minggu beberapa pekan yang lalu, setelah shopping bareng Pietra di Citos, kita nyempetin ke Chopstix untuk menjawab panggilan alam dari perut.
Fortune cookies-nya emang ga se-’jreng’ yang aku arepin siy.. Maybe it’s the atmosfer. Kurang pecinan. Or maybe it’s the cookie itself, BM kali, alias ga original..
Yah, nevermind the taste, the sheet I found inside was written “Answer is what your heart prompts you”.
Mo dipas-pasin, agak susah juga…mengingat aku lagi ga punya particular question in mind. Secara general, mungkin bisa dianggep kalo aku harus jalanin semua sesuai kata hatiku aja.
Entah bener2 sakti ato ga, fortune cookies emang seperti nyabut kertas undian. Beda dengan Tarot. Tarot bukan seperti sulap kartu dimana magician bisa menebak kartu tertentu yang dipilih audience. Walo, prosesnya pake nyabut-nyabut kartu secara acak juga, Tarot sangat personal. Analisis (ato ramalan) yang keluar berdasarkan wujud kartu yang terpilih, sangat customized. Kartu bergambar sama yang diambil oleh dua orang yang berbeda akan mengatakan dua hal yang berbeda pula, tergantung dari permasalahan dan latar belakang orang tersebut.
Kalo Tarot digunakan untuk meramal diri sendiri, kemungkinan analisisnya lebih tepat, karena data jauh lebih akurat. Meskipun mungkin obyektivitas kurang terjamin.
Sebaliknya, untuk menjadi pembaca Tarot, seseorang harus peka, intuitif, sensitif. Lebih afdol lagi kalo punya sedikit bakat indera ke-6.
Tarot isn’t about magic. Ia lebih banyak memakai ilmu sugesti, psikologi, psikiatri dan antropologi kali..sangat manusiawi. Walau tidak bisa dibilang ilmiah.
For more info, please visit http://www.tarot.com.
Fortune cookies? Ramalan-ramalan yang tertulis di dalamnya tampaknya sebatas nasehat umum, kata-kata bijak dan wise quote, yang applicable untuk semua orang. Orang hanya tinggal mengambil kue mana yang menarik tangannya, dan kalimat apa yang muncul di dalamnya?