Tag Archives: Coffee

Barista

Barista
Barista at work

Image via Wikipedia

Being a coffee lover (not to say ‘an addict’), recently I found myself with a wish to have a barista course. I’m not sure why I want it at the first place. But maybe it has something to do with us going to Starbucks quite often lately.

My husband didn’t really support that idea, though. He thought it would be useless. Well, after browsing for a barista course in the net, I found out that it costs a quite a lot. So I guess that would make it useless, indeed (unless I’m thinking seriously about opening a coffee shop or going to find a barista job).

In Dallas area, one barista course costs about US$ 1,200 for three days lesson. That’s the most expensive class there. They also carry one and two days class. But I would want the whole package. So, yea, it would be a great amount to waste on something I don’t intend to pursue.

Well, I also found out that back in Jakarta, the price of that course is far more reasonable, aside from the currency. So, I guess that goes in to my ‘dream book’ then. There’s always a way when there’s a will, my friends!

Cheers!

Oh, and Happy Halloween!

 

Coffee…Sweet Escape

Coffee…Sweet Escape

Sudah beberapa minggu ini aku berusaha menjalankan program perbaikan gizi (diet maksudnyaa).

Sebenarnya ga ada yang ekstrem. Ga sampe berlapar-lapar dahaga..ya iya lah..emang puasa?

Yang signifikan malah setiap pagi aku berusaha tertib sarapan, walaupun cuma setangkup roti tawar atau segelas susu. Konon, breakfast is the most important meal of the day. Kita mungkin tidak melihat dampaknya secara kasat mata sekarang, tapi kebiasaan itu akan menunjukkan efek baiknya pada saat kita berumur nanti.

Selain itu, dengan sarapan, otomatis rasa lapar yang biasanya mulai menyerangku pukul 10 pagi dan selanjutnya memberi dorongan untuk mencari camilan, jadi tidak terasa. Well, not frequently, I mean…heehee.

Dan yang paling penting diperhatikan dalam programku ini adalah: no dinner! Satu hal yang mungkin sudah diketahui setiap orang; bahwa makan malam punya andil besar dalam peningkatan berat badan.

Nah, nah….. Sejak itulah….sejak makanan tidak lagi (boleh) menjadi daya tarikku, sementara teman-teman kantor tetap begitu royalnya mendistribusikan camilan, aku semakin lengket dengan minuman yang sebelum ini pun sudah menjadi benda favoritku. Kopi!

Jam 10 pagi pengen ngunyah makanan? Bikin kopi!

Ngantuk abis makan siang? Kopi!

Kedinginan gara-gara AC kantor? Ngopi panas!

Malem-malem lembur ato lagi punya bacaan asik? Kopi teman baikku, tidak ada duanya.

Bukan berarti aku minum kopi 4 kali sehari ya… No…aku tetep membatasi konsumsi kopiku maksimal 2 cangkir sehari. Itu pun tidak setiap hari aku minum kopi.

Beberapa hari ini, mas Adie seniorku di kantor jadi kerap menegurku saat melihatku mulai sering ngopi-ngopi di meja kerjaku.

“Sit, jangan sering-sering minum kopi lo…. Katanya itu mempercepat menopause buat cewe.”

Tentu saja bukan peringatan yang tepat untukku saat ini, secara umurku ‘baru’ sekian ini.

“Sit, kowe kok ngopi terus to… Jangan banyak-banyak lo..”

Yah, begitulah. Mungkin akhir-akhir ini memang secangkir kopi jadi lebih sering nangkring di mejaku. Apalagi ditambah load kerja yang lagi tumpuk undhung beberapa minggu ini. Gimana lagi caranya ngganjel mata di depan komputer kalo bukan dengan ditemani Mr. Coffee?

Setelah meng-google isu baru dari mas Adie tadi, aku menemukan beberapa makalah dan artikel yang menyatakan bahwa kopi memang dapat menjadi salah satu penyebab lebih cepatnya usia menopause pada wanita. Hal ini karena secara biologis, wanita sangat unik. Tubuh dan hormon wanita sangat sensitif, demikian juga terhadap kopi. Tubuh wanita lebih rentan terhadap efek kafein, dan lebih lama dalam menetralisir racun kafein tersebut.

Akibat negatif kopi terhadap wanita yang relatif lebih ‘menyeramkan’ adalah ketidaksuburan, dan osteoporosis, terutama bila dikombinasi dengan konsumsi alkohol.

Kopi juga wajib menjadi pantangan bagi wanita hamil. Karena efeknya yang long lasting di tubuh wanita, zat kafein dapat langsung mempengaruhi bayi. Demikian pula saat menyusui, kafein akan ikut mengendap dalam ASI walaupun sang ibu sudah mencernanya berhari-hari sebelumnya.

Well, I’ll keep that in mind. Untungnya….sampai sejauh ini, efek kopi yang aku rasakan cuma peningkatan aliran darah ke ginjal yang mengakibatkan produksi urin bertambah setelah minum segelas kopi.