Tag Archives: cappuccino

Menyeduh Tawa dalam Secangkir Kopi

Menyeduh Tawa dalam Secangkir Kopi
Wet Cappuccino with heart latte art

Image via Wikipedia

I’m not a coffee addict. Yah, aku tidak akan mengucapkannya keras-keras. Tapi itu benar kok.

Usia sekolah dasar, mama sudah mengenalkanku pada kopi. Pada tahun-tahun itu, kami berlangganan satu botol susu sapi setiap hari. Botol langsing transparan yang menyenangkan itu selalu muncul di atas keset pintu depan menjelang sore.

Sekitar jam enam petang setelah aku dan adikku menuntaskan waktu bermain dan bersiap untuk belajar, di atas meja makan sudah tersedia dua gelas susu sapi yang warnanya tidak lagi putih bersih. Percikan warna hitam kopi telah mengubah warnanya menjadi beige.

Menurut mama, satu sendok teh kopi hitam cair agar susu sapi itu tidak terlalu terasa eneg dan bikin mual. Okay. It worked.

Tumbuh remaja, hampir tiap malam, tugasku adalah membuatkan secangkir kopi hitam untuk papa. Bukan tugas sulit. Hanya mencampur satu sendok teh kopi bubuk merk sejuta umat dan dua sendok teh gula pasir ke dalam satu cangkir kebangsaan papa dan menyeduhnya dengan air mendidih.

Aku bahkan tak pernah tahu bagaimana rasanya. Itu sudah rumus aman luar kepala. No-brainer job.

Baru setelah duduk di bangku SMA, secangkir kopi hitam mulai menemaniku belajar.

I’m not really a morning person. Aku lebih sesuai dengan deskripsi makhluk nocturnal. Kenapa? Karena nampaknya otakku baru bekerja efektif di atas jam sembilan malam. Itulah kenapa masa-masa ulangan umum, THB, Ebtanas dan ujian apapun itu yang aku nikmati selama SMA, selalu ditandai dengan malam-malam belajar sampai larut bahkan hingga pagi.

Dan setelah berpuluh-puluh malam lembur menggambar saat kuliah Arsitektur dengan mengkonsumsi kopi (cappuccino, kopi susu, kopi moka, kopi kacang, kopi jeruk mint,…..), baru kusadari kalau semua kafein itu tidak terlalu berefek pada masa kantuk atau beratnya kelopak mata.

So, they’re all just my guilty pleasure. My ecstasy. My muse.

Setelah itu, kopi menjadi penanda bahagia. Kopi adalah menu utama ketika aku dan sahabat-sahabat wanita hang-out atau reuni. Zuppa soup, salad, atau french fries kerap jadi kudapan di sela-sela cerita kami. Tapi berjenis-jenis kopilah yang menggelontorkan cerita cinta-kerja-canda kami ke atas meja.

Kencan bersama kopi dan pacar adalah momen santai saat kami berdua melepaskan masalah dan kesibukan dalam hubungan kami. Secangkir kopi panas menguapkan ketegangan kami, membuka hati untuk bicara jujur. Segelas kopi dingin melelehkan kepenatan pikiran dan melepas bebaskan tawa kami.

Kemudian, pasca selibat kopi suamiku, aku kembali menemukan tawa ceria dalam seduhan kopi.

Dimulai dari sebungkus cappuccino-tinggal-seduh dari laci kantor, sampai obrolan santai di kedai kopi kelas mall, bersama dua adik yang belum pernah kumiliki.

Tidak seperti sahabat-sahabat wanita yang menghabiskan bertahun-tahun sekolah bersamaku, aku tidak pernah benar-benar mengenal mereka. Kedekatan kami ‘hanya’ dibatasi oleh pekerjaan kantor yang mengharuskan kami bertemu setiap harinya.

Just like siblings. Living with them everyday, without really interfering in their lives.

Acara ngopi bersama duo kocak itu adalah oase setelah serangkaian pekerjaan yang membuat depresi. Tak ada hal penting yang dibicarakan. Hanya kami, tiga jenis kopi dan tawa lepas disepanjang sesapan kafein dan hisapan nikotin. Their nicotine, not mine – of course.

Sedih memutuskan lingkaran persaudaraan kopi ini. Aku tahu, ada kemungkinan aku akan menemukan petualangan kopi yang lain di negeri sana nanti. Cerita baru tak berarti menghanguskan cerita lalu.

Sama seperti kopi seduh hitam mengingatkanku pada susu sapi putih dan kopi papa, atau cappuccino panas dalam mug yang menandai malam-malam larut bersama tugas kuliah. Demikian pula tiga macam kafein dan asap rokok yang kubenci akan selalu menjadi kenangan manis bersama dua laki-laki muda yang kusebut adik.