Tag Archives: billy milligan

Manusia

Manusia

Skali lagi mataku tercekat pada kisah Billy Milligan. Melanjutkan penuturan Daniel Keyes yang lalu dalam 24 Wajah Billy, sekuelnya kali ini sudah semakin mengakrabkanku pada Billy.

Tidak ada lagi sosok kriminal, hanya ada Billy yang manusia, yang mengalami trauma, dan sedang berjuang menyembuhkan penyakitnya.

Novel ini, seperti kisah pendahulunya, mengisahkan dengan rinci dan sangat deskriptif mengenai pertarungan jiwa dan perasaan-perasaan Billy. Fascinating.

Dituntun dari sudut pandang Billy, aku jadi kesel membaca gimana banyak pihak saat itu yang tidak mempercayai adanya sindrom MPD (Multiple Personality Disorder) dalam diri Billy. Bahkan petugas dan perawat di rumah sakit jiwa yang merawatnya pun tidak!

Di buku pertama, aku menyelam dalam pikiran-pikiranku sendiri tentang pro-kontra keputusan ‘tidak bersalah karena alasan sakit jiwa’, walopun aku percaya Billy memang sakit. Tapi mengingat akibat perbuatannya dan korban perilaku kriminalnya… It’s hard to take a side.

Karena di luar semua itu, kisah 24 personil Billy yang digambarkan dengan rinci itu sangat menyayat hati.

Menyayat hati… tapi mau tidak mau, aku melihat dan mengagumi keagungan dan keajaiban Tuhan pada diri Billy. Karena dia tidak hanya punya multiple personalities, tapi juga multiple talents dan multiple skills!

Menandakan bahwa dalam keadaan sehancur apapun (dalam kasus Billy, akibat dari trauma tragis masa kecilnya), manusia yang ‘berkeping-keping’ dan kehilangan orientasi seperti Billy pun, masih dikarunia insting yang tajam, bahkan mampu ‘berevolusi’ dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Jadi inget ungkapan… “orang gila itu manusia yang lebih cerdas dari orang umumnya” , “seorang jenius itu biasanya eksentrik”.

Bahkan ada penelitian dan seminar belum lama ini yang mengumumkan bahwa psikopat itu ada di sekitar kita tanpa kita sadari. Seringkali mereka adalah orang-orang sukses dan terpandang di masyarakat. Maaf ni kalo misinformed, berhubung dulu ga mampu dateng ke seminarnya.. .

Dari buku ini aku menyadari bahwa pihak yang ‘benar’ (petugas dan perawat RSJ Billy, misalnya) tidak berarti mereka berhati malaikat dan selalu beritikad baik. And vice versa.

Status dan kedudukan tidak akan merubah kenyataan bahwa manusia adalah manusia; yang selalu berubah at certain stage in their lives.

Dan bahwa Billy, dan pasien-pasien kejiwaan dengan criminal records lainnya, adalah manusia dengan hati nurani dan hak-hak asasi yang mereka miliki sejak lahir. Stigma negatif apapun yang dikenakan pada mereka tidak membuat manusia-manusia ‘normal’ manapun punya hak untuk mendiskriminasikan atau berlaku sewenang-wenang kepada mereka.

Pada tingkat tertentu, orang-orang yang dibuang masyarakat ini, tidaklah lebih rendah ato lebih kejam dibandingkan dengan seorang dokter yang korup, ato seorang perawat yang menyalahgunakan kekuasaan dan wewenangnya untuk menyakiti pasien, manusia lain.

The minds of ‘someone, anyone’

The minds of ‘someone, anyone’

Meminjam judul buku kisah nyata mengenai seorang pengidap multiple personality Billy Milligan.. Entah mengapa isu2 di sekitarku akhir-akhir ini selalu mengingatkanku pada Billy.

Banyak orang memvonis orang lain dengan menganut paham “Sekali lancung ujian,seumur hidup orang tak percaya”. Bahkan sudah ada penelitian yang membuktikan bahwa watak kriminal itu diturunkan melalui gen, seperti halnya kecenderungan bunuh diri.
But, once again, ga ada yang absolut di dunia ini..ga akan ada putih kertas bila tidak ada hitamnya tinta. Selalu ada dua kutub Utara dan Selatan.
Dan di sisi lain perwatakan gen yang mendakwa orang mempunyai sifat jahat dari leluhurnya, terdapat pula kasus ledakan watak yang memecah manusia menjadi dua ato lebih (dalam kasus Billy) kutub. How would we judge that? Karena seperti yang sering kita jumpai, hal itu terjadi karena pengaruh eksternal, hasil dari perlakuan atau emosi yang ditimbulkan oleh orang-orang sekitar.

Dalam kasus Billy, karena tekanan dan trauma yang dihadapinya, kepribadiannya memecah menjadi ‘orang-orang’ lain yang dia sendiri tidak sadari, dan melakukan hal-hal yang tak dapat dia kontrol yang normalnya tidak akan bahkan tidak mampu ia lakukan.
Dalam kasus manusia normal dan wajar, pribadi-pribadi lain itu dapat muncul karena stress ato depresi yang pada suatu titik dapat membutakan akal sehat, merepresi logika serta good deeds yang biasa kita punya.

Sometimes I do things beyond my will.. Sometimes my friends do things they wouldn’t normally do.. Sometimes, things just go out of control, and we black out from sanity.

Itu yang terjadi pada manusia dunia. Kekuatan pikiran, kelemahan pikiran, kenihilan iman. ‘It’s all in the mind’, so Harrison said. Beda kita dengan Billy Milligan mungkin cuma masa lalu yang traumatis dan penyakit amnesia yang tipikal diderita oleh seorang pribadi majemuk.

Aside from that, kita sepenuhnya dikontrol oleh sel-sel otak yang rata-rata selama hidup hanya dieksplor kurang dari 10% saja, dan emosi2 jiwa yang seringkali tidak dapat kita definisikan.
Kita bisa sejenius Beethoven yang menghasilkan masterpiece-nya justru saat dia beranjak tuli, atau bisa sejahat seorang ibu yang bunuh diri bersama anak2nya atas desakan ekonomi, atau bisa juga menjadi seorang ahli bahasa, ahli ilmu kedokteran, pemusik, jago bela diri di luar kesadaran seperti seorang Billy Milligan yang tidak tamat SMU.

Human mind(s) hold most of the mistery in the world.