
Selasa 12 Agustus kemarin, digelar seminar untuk arsitek dan desainer yang diadakan oleh Australian Trade Commision, annual event (tapi kali ini bayar bo’…kalo ga dimodalin kantor ya ga nongol). Kali ini diadakan di The Dharmawangsa Jakarta.Terus terang, baru kali ini aku ikut seminar dengan topik yang multi-theme yang dihadiri oleh both arsitek dan desainer interior. Topiknya emang beneran colorful. Mulai dari tren property oleh Ir. Ciputra, Green Architecture oleh Ridwan Kamil(salah satu alasan dateng), Green Interior Design oleh ibu kita Naning Adiwoso (salah satu alesan dateng jg, walo kebanyakan materinya udah pernah dapet waktu ‘kuliah kantor’), dan terakhir mengenai Contextual Architecture oleh Guy Morgan, principal dari Guy Morgan Architects, Australia.
Personally, I was looking forward to listening to Ridwan Kamil, and what he had to say about Green Architecture. Secara…selama ini cuma dengerin green design dan global warming dari Bu Naning doang (dan Al Gore tentunya), yang notabene lebih condong ke kepentingan interior design. Walaupun akhirnya kesimpulan dan esensi wacana Ridwan Kamil ga jauh beda dari visi-misi Bu Naning waktu nguliahin kita, it was still interesting to experience.
Kalau selama ini ‘hanya’ mendengarkan pesan green design, sambil gigit jari karena kita semua tahu, implementasinya ke desain tidak semudah yang diucapkan, di seminar kemarin, Ridwan Kamil menegaskan satu kesimpulan yang bikin kita harus berpikir mundur dan berkaca dahulu sebelum bermimpi bisa menciptakan suatu green design.
Salah satu green design challenges di Indonesia adalah expensive technology that we can’t afford (yang bikin gigit jari tadi). Sementara developed countries di luar sana dapat dengan relatif mudah mengatasi krisis energi mereka dengan teknologi mutakhir yang mampu mereka jangkau. Oleh karena, untuk negara kere seperti kita, harapan selanjutnya ada di poin issue selanjutnya; owner and architect (society in general) mentality yang perlu ditingkatkan. Kesadaran dan inisiatif!
Bu Naning juga menggarisbawahi poin ini dengan jargon yang berbeda: you have to be clean first before you can be green! Iya dong… Mana mungkin kita bisa meyakinkan klien kita untuk memakai closet 3/6 liter atau automatic faucet sementara kita masih hobi berlama-lama mandi dengan shower bertekanan tinggi…malu dong. Manage your own sewage first before you throw a cloth grocery bag to someone else.
Tapi jangan juga jadikan keterbatasan policy dan officer kita sebagai kambing hitam untuk tidak mengambil inisiatif untuk mewujudkan green design. It is how much the cost if we are not going green!
*please reduce your ecological footprints on earth*
pic from: http://www.treehugger.com