Tag Archives: aanwidzjing

My First Aanwijzing

My First Aanwijzing

Hari Jumat kemaren was a hard day’s night for me.

Sehari sebelumnya, Anis ngajakin nginep di rumahnya, berhubung dia tau pasangan kencanku ga ada di Jakarta weekend ini. Ternyata malam itu juga, sayang ngirim sms (setelah sehari sebelumnya diam seribu bahasa), ngajak ketemuan Jumat itu dengan catatan dia bisa tenggo.

So, dengan niru kebiasaan Anis sebagai ‘mbak-mbak prepare’, Jumat pagi aku ngantor dengan tas gendut berisi baju ganti dan kosmetik secukupnya buat bekal kalo jadi nginep di rumah Anis.

Jam 2 siang emang ada jadwal aanwijzing di PJNHK Slipi bersama bapak marketing kita itu.. Cuma entah knapa, pengalaman pertama ini ga gitu aku pikirin. Mungkin karena skala pekerjaan dan status kita sebagai pendamping owner aja. So, pikiranku pagi itu dipenuhi oleh janji dengan doi, atau janji dengan Anis.

Ealah..lha kok tiba2, setelah pagi itu kuhabiskan dengan memenuhi panggilan dari Bu Naning – yang untungnya lagi ga pengen ngomel, eh, ada telpon dari bapak marketing kita kalo beliaunya ga bisa ikut aanwijzing! Gila apa yak..aku disuruh jadi single fighter di peperangan yang belum pernah aku terjuni? Untungnya bapak itu sudah menunjuk penggantinya, Mas Wahyu sang arsitek senior.

Nah..gara2 penunjukan itu tuh, jadi kita review lagi materi dan gambarnya, dan ketauan kalo masih ada kecacatan di sana-sini. Mamamiaa..

Di tengah ke-agak panikanku cari-cari katalog material, masih harus nyempetin nemuin supplier yang udah kunanti-nantikan sejak kemarennya. Eh, lha kok ada supplier dari proyek lain yang memilih hari itu juga untuk nelpon dan minta gambar (untung ada mas Yudi yang bisa dimintain tolong..).

Akhirnya saat cowo2 Jumatan, aku memilih pasrah, melupakan kepanikanku, dan makan siyaang!! Empty stomach won’t help you with anything.

Untung juga aanwijzing itu digantikan mas Wahyu. Jelas dia lbh capable soal teknis dibanding bapak marketing itu. Dan aku juga bisa belajar lbh banyak ndengerin arsitek daripada bapak marketing (bukannya mendiskreditkan..) So..again..there’s no such thing as coincidence. Things happen when they must happen.

Aanwijzing yang (masih) diwarnai kekacauan internal antar user (dan mengaburkan kesalahan konsultan, hehe) itu berakhir around 5. Pas banget, masih ada waktu untuk kencan kalo si sayang jadi tenggo.

Ya udah, setelah minta diturunin mas Wahyu di JDC, aku langsung on the way (on the bus, ding) ke Plangi, bergabung dengan kerumunan massa Indonesian Idol, dengan menenteng tas gendutku itu..huehe. Berhubung sayang masih banyak kerjaan, jadilah aku wira-wiri Gramedia – Centro ga beli apa2, sampe kaki sakit dan bahu kanan pegel gara2 tas gendut. Yah, at least ketemu sayangku sebelum dia terbang ke Jogja dan meninggalkanku sendiri di Jakarta weekend ini.

Sampe kos udah lewat setengah jam dari pukul 9 malem. Sebelum lupa lagi, nyempetin nge-sms Silvi di Aussie yang lagi ultah (Tau tuh jam berapa di Aussie?). Dan aku baru sadar kalo hari itu melelahkan, setelah mataku mulai berat sementara masih jam 11 malem.