Category Archives: Nonfiction

Ketakutan dan Peradaban Manusia

Ketakutan dan Peradaban Manusia

I read somewhere that ‘fear’ may be the source of all evil (or practically, criminality).

Ketakutan—sumber kejahatan? Pernyataan ini mungkin agak susah dicerna. Karena rasa takut lebih biasa diidentikkan dengan kelemahan. Sebuah substansi yang berada di tempat yang berbeda dengan kejahatan. Tapi coba dirunut demikian: ketakutan adalah simpul atau ujung dari rasa tidak nyaman, tidak bahagia, tidak percaya diri, iri hati, prasangka, dan banyak lagi perasaan negatif.

Seorang miskin yang sampai hati mencuri adalah karena ia takut akan kelaparan, penderitaan keluarganya, dan mungkin bahkan kematian.

Seorang anak yang mengolok-olok penampilan temannya; mungkin karena ia sendiri tak puas dengan dirinya, merasa ia punya kekurangan dan takut tak punya peran di antara teman-temannya.

Seseorang yang memfitnah dan menjatuhkan rekan kerjanya karena iri hati, bisa jadi karena ia ketakutan. Ketakutan akan kegagalan, akan kekalahan, akan masa depan tak cerah, dan pada akhirnya: akan penghidupan yang kurang layak (menurut ukuran pribadinya).

Seorang koruptor melakukan segala keculasannya karena ia haus kekuasaan, haus uang, haus posisi. Mengapa ia haus akan hal-hal duniawi itu? Karena ia merasa terancam oleh apa yang dimiliki rekan-rekannya. Ia ketakutan; akan hidup yang biasa-biasa saja bila dibandingkan rekannya yang lebih kaya, akan kesendirian yang ia rasakan ketika rekan-rekan yang lain punya mobil baru atau properti baru. Sedemikian pengecut dan takutnya akan hidup sederhana, ia tak memedulikan kenyataan bahwa ia telah merugikan dan mengambil hak orang lain.

Dalam rangka berprasangka baik pada manusia, segala kejahatan dan tindakan vandalisme selalu berpangkal pada rasa takut. Akan hal-hal yang tak dapat ia atasi hanya dengan kemampuan sendiri dan perbuatan baik. Karena manusia bukan iblis yang adalah murni jahat. Memang, selain itu selalu ada faktor ketidakwarasan. Tapi saya tidak sedang berbicara tentang manusia yang tidak waras.

Ketakutan ini juga dapat menjalar menjadi kekuatan massa yang merusak. Mirip api, sama seperti rasa marah, rasa takut juga punya lidah yang berkobar dan menjangkit. Ia bisa menjadi senjata pengerah massa dan penyulut provokasi.

Demikian pula kiranya yang terjadi ketika sekelompok massa dengan sewenang-wenang menyerbu dan memporak-porandakan sebuah diskusi buku. Diskusi. Buku. Pembubaran paksa. Apa yang salah?

Sebuah diskusi—entah itu diskusi politik atau diskusi sekelompok turis tentang rute perjalanan mereka—merupakan bagian dari kemerdekaan rakyat Indonesia untuk berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan yang dilindungi oleh undang-undang.

Buku sendiri merupakan salah satu ekspresi dari kemerdekaan tersebut. Dan meskipun seorang penulis diberikan kebebasan untuk menuangkan gagasan menjadi sebuah buku, bahkan bila gagasan itu semerusak dan sesesat apapun, kekuatan buku itu berada sepenuhnya di bawah kendali interpretasi dan pengolahan akal individu yang membacanya. Buku bukanlah suatu energi laten yang misterius, ia adalah energi potensial yang dapat diselisik. Manusia punya beragam pilihan dalam menyikapinya: membaca atau tidak membaca, menyerap isinya atau membiarkannya berlalu, mengambil pelajaran darinya atau membuangnya, dan sebagainya. Sebuah diskusi akan mewadahi berbagai penafsiran dan reaksi manusia terhadap buku tersebut. Diskusi buku bukan orasi, bukan propaganda, bukan doktrinasi. Ia tidak laten dan tidak bandel sampai perlu diringkus dan diberangus. Ia terbuka untuk pertanyaan, kritikan, dan koreksi.

Umumnya, kita takut pada suatu hal yang tidak kita ketahui. Dan beberapa pendapat mengatakan agar dapat mengatasi ketakutan itu, kita harus menghadapi sumber ketakutan tersebut. Bukan dengan cara menyekap atau coba mematikan yang tidak bisa dimatikan. Hal-hal baru yang tidak kita ketahui dan kita takutkan itu akan terus datang, dalam bentuk dan media yang berlainan.  Dengan menghadapinya, kita dapat melawannya. Melawannya dengan tata cara dan prosedur yang tepat, tentu saja. Dengan beradab, seperti layaknya manusia modern yang berakal budi dan berhati nurani.

Peraturan dan perundang-undangan dibangun untuk alasan-alasan tertentu; antara lain ketertiban, kenyamanan, keamanan, dan keadilan untuk masyarakat. Ketakutan, kecurigaan, maupun paranoia sekalipun akan sebuah gagasan tidak lantas mensahkan satu kelompok tertentu untuk menerobos hak-hak warganegara atas nama apapun. It doesn’t work that way. Apalagi bila dilakukan dengan kekerasan dan penyiksaan. Demi apakah tindakan semacam itu dapat dibenarkan?

How’s Your Integrity Doing?

How’s Your Integrity Doing?

Integrity is a rare creature.

It may rooted deep down one’s heart and soul. But it needs one value or several at once to surface.

Integrity is even hard to find in a corrupted environment. When the seed of integrity comes to one’s mind in such environment; it will have to strive amid the sympathy feeling toward friends or colleagues, temptation to join the culprits and have the same convenience, or the simple ignorance.

Does integrity belong to the same group as compassion, kindness, forgiveness, and such? If it does, how do we settle the battle between doing what’s right and committing to certain relationship?

If it does not, on what ground should we act on (if it’s not regarding the law)? Morality? Define morality. Community order? Is there a guarantee that an act of integrity from one person won’t spark another’s misbehavior? 

According to wikipediaIntegrity is a concept of consistency of actions, values, methods, measures, principles, expectations, and outcomes. In ethics, integrity is regarded as the honesty and truthfulness or accuracy of one’s actions. But as civilization evolves and differentiates, certain values and measures may be undergoing some modification in accordance with each society or personal.

Such conflicts may contribute to the rarity of integrity. Because integrity is not just a matter of doing what is right, but furthermore, is an action of pointing out the wrong found in surroundings. It requires—beyond the kind heart, honesty, and self-driven personality—impartiality.

Awareness. Courage. Honesty. Those are just the first steps taken towards integrity. More than seldom; determination, sacrifice, intolerance; will be required to step up.

So, how’s your integrity doing?

One Miracle at a Time

One Miracle at a Time

Three days ago, I had a fine day—went to a movie and got great news from my RE. I was relieved and content, could hardly wait for the days and weeks to unravel.

A day later, several tornados severely attacked the Dallas-Fort Worth area. Electricity and water systems in some areas were damaged, plenty of houses were ripped apart, and too-many-to-count cars and other vehicles were tossed around. But no death was reported.

  

To even highlight my point, the disaster spared the city I live in. Going through a horrifying light thunderstorm and not-so-big hails were all we had to put up. Our car didn’t even suffered enough scratch from the hails.

My cousin said, “Yeah, (we’re) still lucky.”  True. For we are not only living a day at a time, we are living one miracle at a time.

Subsidi Bahan Bakar Minyak Untuk Subsidi Lain Saja

Subsidi Bahan Bakar Minyak Untuk Subsidi Lain Saja

Image by Corbis

Sekali lagi isu kenaikan harga BBM bikin heboh. Selama ini saya selalu cenderung pro kebijakan ini. Bukan karena saya suka kalau harga BBM naik, dan bukan karena saya tidak terpengaruh dengan perubahan ini. Saya mendukung kebijakan ini karena kenaikan harga BBM berarti mencabut subsidi. Idealnya, pencabutan subsidi untuk BBM tersebut bisa dialokasikan untuk anggaran negara di pos-pos lain. Idealnya, alokasi tersebut ujung-ujungnya untuk kesejahteraan rakyat juga. Idealnya.

Kenapa pencabutan subsidi BBM jadi masalah besar untuk rakyat? Karena kita sudah terbiasa dimanjakan dengan subsidi BBM seumur hidup. Dimanjakan, sebab harga BBM negara kita termasuk paling rendah di dunia. Bahkan dibandingkan dengan India yang pendapatan per kapitanya lebih rendah, seperti yang diungkapkan Agus Marto di sini.

Sementara faktanya: bahan bakar minyak dari minyak bumi adalah sumber daya alam yang tidak terbarukan. Minyak bumi adalah barang mewah, saudara. Bahkan bila negara kita saat ini sanggup menyuplai 100% kebutuhan BBM pun, suatu saat sumber energi itu akan habis dan cepat atau lambat kita akan menghadapi permasalahan yang sama.

Fakta lain; negara kita punya kesenjangan sosial dan ekonomi yang sangat kasat mata, terutama di Jakarta. Pada masa krisis ekonomi saja, kita masih melihat di sepanjang jalan Jakarta bertebaran mobil-mobil keluaran terbaru, terus bertambah dan senantiasa berganti mengikuti model teranyar. Melambungnya harga BBM memang berdampak pada operasional industri besar maupun kecil dan pada akhirnya, harga barang. Tapi kalau itu menjadi langkah untuk menjembatani jurang kesejahteraan di Indonesia, I’m all for it. Saya lebih nggak rela melihat orang-orang kalangan atas beli mobil macam beli kacang karena harga BBM juga cuma seharga kacang.

Dalam hal transportasi—pada kenyataannya—yang paling dirugikan adalah kalangan menengah ke atas yang memiliki kendaraan bermotor, terutama mobil. Sementara kalangan menengah ke bawah yang tidak memiliki kendaraan bermotor dan penduduk di daerah pelosok mungkin lebih mengharapkan para wakil rakyat memperjuangkan pengadaan moda transportasi publik yang baik dan terintegrasi, pembangunan infrastruktur jalan yang aksesibel, dan trotoar yang manusiawi untuk pejalan kaki.

Jadi menurut pendapat saya sebagai orang awam, subsidi BBM yang hanya memperkaya sebagian rakyat saja lebih baik dialokasikan untuk subsidi bidang lain yang lebih dibutuhkan rakyat, terutama rakyat kecil. Antara lain infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

Buat apa harga BBM stabil dan terjangkau kalau rakyat masih banyak yang tidak bisa sekolah. Tidak adil kalau BBM disubsidi menerus sedemikian rupa sementara Jamkesmas untuk masyarakat miskin saja masih tak merata pembagiannya dan sangat terbatas pelayanannya.

Yang coba saya katakan adalah, masih banyak permasalahan di Indonesia yang bukan cuma ditentukan dari nominal dan kestabilan harga BBM. Tak ada jaminan rakyat akan makin miskin atau tetap sejahtera dari kebijakan harga BBM. Sementara, ada peluang menggunakan anggaran subsidi BBM yang tak terpakai itu untuk lebih memeratakan kesejahteraan rakyat.

Tentu saja skenario saya ini adalah gambaran ideal. Prakteknya pasti akan diwarnai oleh politik, birokrasi, dan KKN perangkat tertentu. Namun hal itu tak mengubah opini saya.

Sisi-sisi lain dari kebijakan harga BBM disampaikan lebih luas oleh Pandji Pragiwaksono di sini.

Menumbuhkan Minat Baca

Menumbuhkan Minat Baca

Boy Behind Stack of Books --- Image by © Radius Images/Corbis

Judul yang klise ini sengaja saya angkat tanpa susah-susah mencari judul lain yang lebih keren dan orisinil. Kenapa? Karena memang frase inilah yang dikenal dan terus dicoba sebarkan di kalangan masyarakat Indonesia. Saya mau jadi bagiannya.

Saya belum punya kesempatan untuk memperkenalkan buku pada anak kandung saya (bila nanti saya punya), atau anak asuh saya (bila nanti saya punya). Saya juga tak punya murid. Saya belum mampu menggalang buku-buku untuk dibagikan pada yang tak kenal buku. Tapi, semoga dari cerita saya di sini, para pengunjung dunia maya yang sempat mampir ke blog ini terketuk untuk turut mensukseskan program ini (program pemerintah bukan ya?).

Sejak kecil, saya cukup beruntung bertetangga dengan saudara sepupu saya yang hobi membaca. Dia lebih tua dua tahun dari saya, dan koleksi bukunya sudah sangat banyak. Mulai dari komik sampai novel petualangan. I have to say, I developed an early reading habit by watching him read. Bagaimana tidak, seringkali tiap saya main ke rumahnya, dia sedang membaca. Adiknya yang sebaya dengan saya pun pasti sedang membaca, meskipun itu “cuma” komik Donal Bebek. Dari lemari buku mereka, saya berkenalan dengan serial “STOP” (Stefan Wolf), duo detektif “Hawkeye Collins & Amy Adams” (M. Masters), dan “Lima Sekawan” (Enid Blyton) yang memupuk kecintaan saya pada kisah dektektif. Dari situ, saya mulai mengoleksi sendiri “Trio Detektif” (Alfred Hitchcock) dan serial Agatha Christie.

Menularkan hobi membaca ke adik-adik mudah setelah itu. Karena saya juga yang mengajari kedua adik saya membaca sebelum mereka masuk sekolah dasar, memperkenalkan mereka pada buku cukup dengan sedikit ajakan.

Derasnya arus informasi sejak bubarnya Orde Baru, kadang membuat orang “takut” untuk asal membaca buku. Di bangku kuliah dulu, saya punya seorang teman dengan siapa saya sering bertukar pikiran mengenai buku yang kami baca. Suatu kali dia pernah menyinggung soal isi sebuah buku yang genre-nya agama atau politik, saya lupa. Sesudahnya dia menceritakan reaksi ayahnya waktu melihatnya membaca buku tersebut. Teguran ayahnya kira-kira begini: “Buku apa lagi itu yang kamu baca?” Nada bicara beliau seakan mengingatkan teman saya itu untuk tidak membaca buku yang “aneh-aneh”.

Belum lama, saya juga pernah mengalami kejadian semacam. Waktu itu saya sedang membaca sebuah buku filsafat-agama karangan seorang rohaniwan. Isi buku tersebut sedikit mengguncang saya pada permulaan. Baru ketika beberapa bab berlalu, saya mulai mengerti maksud baik di baliknya. Suatu saat, saya share sedikit isinya pada dua orang teman baik yang seiman. Dengan kompak, mereka menasehati saya dengan halus untuk tidak membaca buku yang menggoyahkan iman seperti itu. Saya hanya tertawa. Tentu saja, kesalahan ada di pihak saya sendiri karena tak punya waktu dan penjelasan cukup untuk menyampaikan maksud sebenarnya buku tersebut.

Pertama kali saya menjejakkan kaki di sebuah toko buku terkemuka di Amerika Serikat adalah di sebuah kota kecil di luar Dallas, tempat saya kini tinggal. Di tengah toko buku tersebut, ada satu meja display dengan papan nama bertuliskan kira-kira: School Reading List. Di atas meja itu, terpajang buku-buku sastra fiksi terbaik dunia yang biasanya diarahkan sekolah untuk dibaca murid-murid secara mandiri. Judul-judulnya antara lain: “Their Eyes Were Watching God”, “1984″, “The Great Gatsby”, “Dracula”, “To Kill a Mockingbird”, “Les Miserables”, “Brave New World”, “The Catcher in the Rye”, “Of Mice and Men”, “Great Expectations”, dan “A Tale of Two Cities”.

Saya sering menonton film barat dimana tergambar sekolah menugaskan muridnya untuk membaca. Sepupu saya yang tinggal di Jepang juga mendapat tugas Summer reading yang sama. Tapi melihat daftar buku itu secara langsung membuat saya kagum. Karena dari buku-buku yang dipajang di situ, cuma tiga buku yang sudah pernah saya baca. Itu pun baru saya baca setelah dewasa. Sementara anak-anak di Amerika umumnya sudah mengenal buku-buku itu sejak SMU!

Tugas membaca sastra yang saya ingat cuma sekali atau dua kali pernah saya alami. Waktu itu kami ditugaskan untuk membaca buku sastra pujangga Indonesia dan membuat sinopsisnya. Saya pilih “Sitti Nurbaya” (edisi antik dari perpustakaan dengan ejaan jadul). Karya pujangga Indonesia selebihnya cuma saya kenal lewat hafalan judul dan nama pengarang saja. Sayang ya?

The Catcher in the Rye

Image via Wikipedia

“Sitti Nurbaya” maupun buku-buku barat dalam school reading list di atas sama-sama buku dewasa, paling tidak Rated PG (Parental Guidance Suggested). Bahkan “The Catcher in the Rye” tulisan J.D. Salinger mengenai kemarahan dan pergulatan emosi seorang remaja (yang tidak sepenuhnya saya pahami) itu punya stempel konstroversi karena disebut sebagai pendorong Mark David Chapman untuk membunuh John Lennon pada tahun 1980. Itulah kelebihannya jika buku-buku tersebut dibahas di dalam kelas. Segala persepsi salah dari murid-murid yang membacanya dapat diluruskan oleh guru mereka.

Banyaknya ragam ide baru yang ditanamkan melalui buku memang bisa menjadi kekhawatiran tersendiri. Tapi kekhawatiran dan keengganan membaca buku menjadi tak relevan di jaman dimana media berita online dan jejaring sosial dengan mudah menginvasi pemahaman kita melalui segenggam gadget di tangan. Setidaknya dari sebuah buku kita mendapat ulasan yang utuh dan menyeluruh untuk kemudian dapat kita saring dan cerna.

Bukan salah membaca buku tertentu yang bikin orang hilang arah atau sesat. Tidak (mau) membaca (dengan lengkap) lah yang jadi pangkal masalah.

Harapan saya, tak lama lagi sekolah-sekolah di Indonesia akan lebih membudayakan membaca. Dan semoga bukan hanya sastra lokal saja, tapi juga berani merambah sastra barat. Dengan bimbingan dan penjelasan yang baik, niscaya para murid dapat menimbang dan memilah sendiri mana bacaan yang baik dan mana yang tidak. Yang penting, tumbuhkan dulu budaya baca tanpa ketat membatasi. Minat dan akal budi akan menuntut mereka ke jalan yang benar.

Dan semoga, negara kita nanti tak hanya dipenuhi tayangan yang berbasis hiburan semata. Semoga akan ada banyak lagi film yang mempromosikan buku dan pendidikan seperti “Laskar Pelangi”  atau “Denias”, yang karakternya bisa mengutip isi buku besar seperti Cinta mengutip Chairil Anwar di “Ada Apa Dengan Cinta”.

A Tryst with Kimbell Art Museum

A Tryst with Kimbell Art Museum

This story started some years ago when I was still a college student studying Architecture at my hometown; Jogja, Indonesia. In order to tell it properly, I must explain the condition of my study back then.

Some of the assignments for Architecture students involve learning from the “starchitects” around the world. And by learning, it includes understanding the concept and what the building envisions, knowing the architects’s style and vision, scrutinizing the floor plans, circulation, building physics, etcetera. I was in the class of the year 1999 and as I recall, we haven’t had as complete online sources as we would find these days. And our departments’ library was far from being a cornucopia. I distinctly remembered how my friends and I often had trouble finding sufficient written materials and drawings of a particular building. Our library had quite a collection, don’t get me wrong. It’s just that for each assignment, the 80 or so of us would like to have one project that’s different from each other. Clearly, that’s nearly impossible. For those of us  who were lucky enough to discover a book which contains a “not-so-popular” building by a “famous-but-not-too-obvious” architect would usually end up with inadequate material to work with. And the internet wasn’t very helpful either, at that time.

One time, we got one of those assignment. I forgot the year, the subject, or the lecturer *oops*. But it was another analytic assignment on one great building by well-known (obviously) architect. So I picked for myself a building by Louis I. Kahn. It was a museum named Kimbell Art Museum. The signature design of this museum is the subtle yet innovative form of skylight to accentuate the art pieces. The skylight took from as narrow slits on the ceiling which capture the daylight than dispersed by perforated metal reflectors onto the arc-roof and down the wall.

Kimbell Art Museum, Fort Worth, Texas

Image via Wikipedia

I was not familiar with Kahn. I merely ran into a book about his works and liked what I saw.  And as predicted, I didn’t got references on this Kimbell Art Museum as much as I want to build a solid paper. That’s all I can remember about the event. I don’t remember if I nailed the assignment and what grade I got.

And I never thought about that building again until few weeks ago when I found out that Kimbell Art Museum is located in Fort Worth—just 45 minutes drive from where I live now! It struck me. To have the opportunity to visit a certain building designed by a famous architect outside my home country has always been an uttered wish for me. Beyond that, to be able to “meet” the building in person after studied about it only on papers in black and white ink from a place 10,000 miles away, is simply an awe.

Under construction of 2nd building by Renzo Piano

So, last weekend, I had the chance to visit the museum with my husband. Experiencing the building as a museum visitor was not a thrilling journey, of course. I couldn’t roam around as if I was in an open house or something. Nonetheless, it was a fun rendezvous with my “old college friend”.

We’ve come a long way, baby.

https://www.kimbellart.org/

 

“Puji Tuhan”

“Puji Tuhan”

Pagi ini, untuk kedua kalinya, saya mengantar suami ke kantor. Yep, I was the one on the pilot seat. Program antar-jemput suami ini sengaja saya lakoni dalam rangka membiasakan diri nyetir. Kebetulan hari ini saya perlu membeli satu alat dapur, jadi setelah menurunkan suami di kantornya, tujuan saya berikutnya adalah ke supermarket.

Selesai belanja, saya langsung pulang ke apartemen yang perjalanannya cuma dua menit saja. Rute yang saya tempuh sangat pendek. Dari apartemen ke kantor suami cuma lima menit. Total waktu yang saya habiskan pagi ini untuk mengantar suami-belanja-pulang hampir tepat setengah jam. It was a short commute and a very light shopping.

Seperti biasa, sesampai di rumah, saya beri kabar ke suami saya lewat sms. Dan seperti biasa, jawabannya selalu singkat. Kali ini jawabannya:

Puji Tuhan.

Tadinya, saya sudah siapkan jawaban ini:

Keajaiban ya, aku pulang dengan selamat?

Dengan nada bercanda, tentu saja. Mungkin dilengkapi dengan smiley face atau tambahan kata “hehe” di belakang.

Tapi sedetik kemudian saya urung mengetikkannya. Tiba-tiba saya ingat.

Tak menjadi masalah apakah kamu baru kemarin sore bisa nyetir ataukah pembalap profesional. Kamu mungkin saja pengendara yang baik dan berpengalaman, tapi di luar sana bisa jadi ada pengendara ngawur yang beresiko mencelakan kamu. Pejalan kaki di trotoar pun bisa tak aman. Apa pun dapat terjadi di dunia fana ini.

Terlepas dari maksud serius atau bercanda dibalik sms suami saya, “Puji Tuhan” adalah ungkapan syukur dan doa. Dan memang ungkapan itulah yang perlu kita lafalkan atau gemakan dalam hati setiap saat. Dalam konteks kasual maupun formal, selalu pantas kalau kita jawab “Amin”.

 

How Television Shaped Me

How Television Shaped Me

I have been besties with television for God knows how long. But as the media grows, and as I also grow, I noticed that the effects made by television to me somehow shifted along the time. I’m not sure if it was because of my increasing age (wisdom? *meh) or it’s the shows that’s been changing.

I’ll try to break it down here. Below are my television eras sort of like.

MacGyver
  • Elementary school. All I can recall from this childhood of mine are (children) music; American and Japanese cartoons; Indonesian (local) children movie or shows; and some action from MacGyver, The A-Team, and Remington Steele. I don’t think I clearly understood what those shows were about. So they were merely entertainment.
MTV
  • Middle school. I think this age marked the first time I got hooked to television. We started to own a cable, so my choice of show was extensive. I remember I used to park in front of it right after I got home and changed. I think I even had my lunch there, on the couch, in front of the telly. It was my MTV era. And I was crazy about music back then.  So when I was not doing anything else, that’s where I’d most likely be. For me as a teenager, the music (references) and the English speaking helped me survived my teen-life and shaped my personality. Oh, speaking of which, I forgot to mention the Sesame Street show. Yes. Aside from Alternative Nation, MTV Classic, and MTV Unplugged, I did tuned in to the wiz of Big Bird and friends!

Courtesy of Wikipedia

  • High school. This is not as important tv era as the middle school. I didn’t had an enlightenment of any kind. My personal development and life-enrichment was mostly gained through books, social relationship and such. I remember the television show I consumed during that period of time was American comedy series (Friends! and such), soccer games, Japanese soap operas, and reality shows. My highlight: comedy series and soccer games. I still enjoy them until now. I think that comedy and sport (despite the politics) is sincerely entertaining and inspiring, way more than the latter subjects I mentioned.
Criminal Minds
  • College. Those days, television was my escape from pile of assignments and daily routine of campus life. Mostly I watched it in the evening, after I managed to get home and relax. My choice of entertainment was somewhat the same as before. I guess I’ve come to an age where my TV personality might stop developing. Or is it our TV media that had stop innovating? Huh. Anyway, college days was when I got crazy about CSI series. I dig all the franchise. I had a thing for detectives, criminology and forensic since I was a kid. I used to read Alfred Hitchcock and Agatha Christie. Now, the TV have brought the excitement alive for me. After CSI—as you’d know—television have been showering me with detectives. Bones, Monk, Criminal Minds, love them all!

Well, nowadays, I still love those television series. Notably, musical show—I love musical—Glee! I’ think musical series is gaining popularity and I’m pretty sure there will be other musical coming up. So, it’s hard to miss this trending show on television.

Back in the days when I was busy roaming outside the house, television was my companion while I’m home. Now that I’ve resigned from my previous career, I’m pretty much home all day with as much TV as I can consume. But as I was trying to build a new working habit and develop future career, I realize that I need to turn my TV off.

Usually I turn my TV on when:

  • I don’t have anything else to do
  • I have something better to do but choose to do it later
  • I actually have scheduled work to be done, but get lazy to start

You see, it gets worse.

At one point, I know I have to limit my television time in a day. Just one hour less each day would make a significant change in my life. In an hour I could clean up my tiny apartment, or write a blog post, or write a hundred-ish words of a story, or read 50 pages. Multiply that and imagine the kinds of achievements I could accomplish!

I’m proud to say that I’ve been keeping my TV off during the day, so I can do some other meaningful works. I watch it in the morning with my husband for news update, and in the evening when my husband’s home from work to watch some movies together.

All my life, television has done considerable (good) affects to me. It’s been more than merely entertainment media (not talking about the news casts here), it has contributed a number of aspects to my perspective and personality throughout those years. But as I aged and have new goals in life, it’s best to draw the line and make my 24 hours a day matter.

 

My Obstacles to Writing

My Obstacles to Writing

I know many people have rather similar problems to overcome while writing. Writer’s block, deadlines, personal problem diverting focus, distraction by kids (or in my case: husband), and the list goes on with more personal touch on it.

Well, I have my own personally-tailored shortcomings in hand. But I’m sure one or more could be yours or somebody else’s too. So these are some things that might blow my concentration or keep me from typing in the first place.

Google 的貼牌冰箱(Google refrigerator)

1. I get lost in Google. I kill my time by feeding them to my curiosity. I’m used to google everything that puzzles me while watching telly, reading a book or the news, or whenever I question something in my mind. That would be fine when done in your spare time. But while writing, sometimes I have to stop myself from rambling on the net. I should restrain my research so I don’t get carried away by the abundance information I try to consume all at once.

Image by Corbis

2. I have the urge to edit every line right after I put down the period. And I’m getting more self-conscious about this after I took a course on copy-editing. I began to understand more about punctuation, sentence structure, and other grammatical issues. I re-read my sentence to make sure I made it concise and and clear. Sure, those editing are crucial and compulsory. But overdoing it while writing doesn’t help me with the writing flow.

Image by Corbis

3. Having somebody (my husband, mostly) hang around and watch me working bothers me. Yes, it’s one of my ugly side. I don’t like being watched or waited while working on something. I get annoyed and distracted, and usually end up with my asking (or growling) the person to leave me alone. I guess this suggest that I should have a safe and secluded working nook to keep my brain flow freely.

Image by Corbis

4. Lack of coffee. I know it’s a lame excuse. But, truth be told, sometimes I find myself reluctant to sit on my desk whenever it’s not my designated day to indulge a cup of coffee. Sad and unhealthy, true (both the coffee and the lack-of-effect). But the feeling of needing a coffee next to me while writing is somewhat easy to cope once I manage myself to sit down and start typing.

Well, that’s all I have. Hopefully, this list stops right here at number four. Amen.

2012 Ongoing List #2

2012 Ongoing List #2

Image by © Richard Baker/In Pictures/Corbis

Hmm. Resolution number two.

Berusaha menulis bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Ini salah satu cara mempromosikan kecintaan terhadap bahasa ibu kita, sekaligus langkah paling mudah mengusung nasionalisme. Setuju?

Niat ini sebenarnya sudah konsisten muncul sejak beberapa lama. Bukan karena sok pinter atau sok jago bahasa (yang ini jelas nggak). Sepertinya muncul dari keprihatinan saja. Dengan banyaknya media sosial beredar beserta alat komunikasi yang makin canggih dan makin langsing, nampaknya penggunaan bahasa pun turut berkembang namun juga menyurut. Surut; dengan munculnya penyingkatan kata dalam penulisan, dan pemilihan kata serapan yang tidak tepat. Contoh yang sekarang nyangkut di otak saya adalah “tetiba” dan “happy birdday” yang kemudian diperjelas menjadi “selamat hari burung”. Aduh. Oke lah, “tetiba” menyelesaikan masalah keterbatasan karakter. Tapi contoh yang terakhir itu tidak memberikan manfaat apa-apa kecuali lucu-lucuan yang setelah beberapa kali terbaca sudah tidak lucu lagi.

Contoh media sosial dan komunikasi itu adalah sms dan online chatroom. Dulu, sms dan chatroom melahirkan gaya baru dalam menulis yang disebabkan pertama-tama karena keterbatasan karakter dalam satu format sms yang hanya 160. Di chatroom yang sempat menjadi ajang mencari dan bergaul dengan teman baru, gaya penulisan itu pun tak jauh beda. Ditambah dengan singkatan dan akronim seperti “asl pls” (age/sex/location, please) dan “kul/ker” (kuliah atau kerja).

Dalam berpesan singkat lewat ponsel, kebutuhan menyingkat kata dan kalimat ada karena berkaitan dengan tarif per pesan. Sementara di chatroom, tampaknya singkat-menyingkat itu muncul karena keinginan kita untuk mengetik secara cepat (secepat berbicara, kalau mungkin) agar obrolan mengalir lancar, terutama bila kita sedang berinteraksi dengan beberapa orang sekaligus.

Lalu muncul sosial media yang sedang meledak beberapa tahun ini; Twitter. Batasan karakternya lebih kikir lagi, 140 karakter. Namun masyarakat sudah tak gagap. Kita sudah terbiasa berstrategi dengan sms, pengurangan 20 karakter tidak akan terlalu berpengaruh. Apalagi, untuk berkicau di Twitter tidak ada tarif yang dikenakan tiap kita memencet tombol “send”. Kita bisa menulis kicauan serial tanpa keluar rupiah, hanya bandwidth saja.

Don’t get me wrong.  Saya bukan sedang mengkritik orang lain atau para alay-ers. Saya juga sedang mengkritik diri saya sendiri.

Beberapa hari yang lalu saya membalas email dari rekan saya. Hubungan kami sangat kasual karena kami teman kuliah. Di tengah-tengah menulis, saya tersadar bahwa saya telah menyingkat banyak sekali kata di situ. Tak jauh beda dari gaya saya menulis sms. Seperti ini misalnya.

Mnrtku sih krn temen kuliah lmyn deket, kalo lagi pas ngga ktm di kampus ya mereka sms plg ngga.

Bingung, tak? Saya berhenti mengetik dan membaca kembali apa yang sudah saya tulis sejauh itu. Kenapa saya menulis seakan-akan email saya punya batasan karakter dan saya harus buru-buru sign-out dari warnet karena tagihan saya sudah IDR 15.000 lebih? Kenapa saya memperlakukan akun email saya seperti Twitter?

Dari situ lah saya sadar bahwa generasi kita mungkin sudah semakin malas menulis dan berbahasa dengan benar akibat terlibas budaya serba instan. Di satu sisi, bersosialisasi lewat media-media tersebut mengajarkan kita untuk beropini dengan lugas, padat, santun dan beretika layaknya sedang bertatap muka (meskipun masih banyak juga yang gagal). Media sosial juga membuka banyak akses pada banyak sekali pengetahuan. Dalam banyak hal, masyarakat lebih terdidik dan lebih pintar berkat teknologi ini. Tapi semoga tak lantas membuat lalai berbahasa dengan baik. Walaupun, cara kita berkomunikasi adalah pilihan masing-masing ya…