Category Archives: Fiction

In Silence

In Silence

20120310-005248.jpg

In silence we love
Share a kiss and share a glance without making point
But speak unuttered words fluently

In silence we weep
Refuse to burden the other
But comfort one another with every heartbeat

In silence we pray
Not knowing where to head nor what to hope
But believe our hearts are nurtured by faith

And so we embrace all await
In silence

Kita Hidup

Kita Hidup

Senja tiba.

Rimba ibukota mengembalikanmu ke gubuk ini bersamaku. Tiap kerut wajah lelahmu seakan bercerita soal perjuanganmu di sepanjang jalan hutan beton hari ini. Kulitmu sudah tak bisa lagi lebih hitam. Namun senyummu kala kubuka pintu menyambut tetap sama, selalu terbit memberiku rasa damai.

Terinspirasi oleh sumber rejekimu, kita selalu percaya bahwa harga suatu benda maupun manusia hanya dibatasi oleh niat dan kreativitas semata. Tak ada kosakata mati di kamusmu. Dan semangat itu yang membuat aku dan kamu bertahan dalam kewarasan kita sampai saat ini.

Kantong plastik beras kian mengempis. Selembar rupiah bernilai lima ribu tersisa sampai entah kapan, kusimpan di rak, di bawah piring lauk. Masih ada dua potong tempe di situ. Syukurlah.

Kita habiskan sisa senja dalam bincang. Menghitung, berencana, tepekur, lalu menutup hari dengan berdoa. Syukur dan pohon, selalu.

Malam makin pekat, memelukmu dalam lelap. Kasur ini cukup tipis hingga mampu menghantar hawa dingin lantai semen. Tapi itu tak mengganggu tidurmu. Hembus lembut nafasmu teratur membelai pipiku. Kugenggam tanganmu untuk mencuri sedikit hangatnya.

Dan ini yang paling aku syukuri. Kamu hidup, di sisiku. Kita hidup!

Kasih tak Sampai

Kasih tak Sampai

Langit menekuni nasi sotonya, menunduk. Sedikit menyesali ucapannya setelah menangkap sekilas kejut di wajah wanita di hadapannya.

Jangan terlihat salting, Langit. Kalian hanya teman lama sedang makan siang bersama.

Ponsel Raras menggeram, menyampaikan kedatangan pesan baru.

How’s life, nduk? Lagi sibuk apa?

Seketika Raras menekan tombol reply.

Baik. Sedang menjalani hidup dengan ‘gelas setengah penuh’, seperti kamu bilang!

 

Langit menangkap sesimpul senyum di bibir Raras. Ekspresi familiar yang pernah membuat hatinya layu oleh cemburu jaman kuliah dulu.

Raras menangkap kecanggungan menggantung di udara antara mereka berdua.

“Langit, masih suka bikin komik?”

Langit menggeleng perlahan.

“Sudah jarang, Ras. Ada, sih beberapa untuk kerjaan kantor. Tapi nggak sempat lagi nggambar sebagai hobi.”

Kalau tidak salah sketsa terakhirku adalah sketsa wajahmu dengan arsir tinta rapido, deh. Di mana gambar itu ya…

 

“Kamu beruntung. Hobimu menggambar. Dan sekarang kamu masih bisa menggambar di bidang pekerjaanmu. Nggak banyak yang bisa menikmati pekerjaannya sebagai hobi.” Raras menyeka keringat di pelipisnya.

“Tapi aku sarjana arsitektur, Ras. Sementara aku tidak menjadi arsitek. Apakah masih terhitung beruntung?”

“Kamu beruntung bila kamu memilih untuk merasa demikian. Bukan karena faktor kondisi, aku rasa.” Raras terdiam sejenak, menambatkan sekilas pandang pada topi Langit yang ia letakkan di atas meja.

Ingatannya melayang pada halaman kampus, diwarnai gerimis hujan. Waktu itu Langit menawarkan topi padanya yang sudah siap sedia hendak berlari menerjang tirai air. Menurut Langit, gerimis bikin kepala pusing.

 “Demikian juga keberhasilan bukan dilihat dari konsistensi bidang kuliah dengan profesi yang ditekuni. Itu Wisnu yang bilang. Karena dia juga bukan arsitek lagi, tentunya.” Raras tertawa.

Wisnu lagi. Satu lagi paham Wisnuisme yang nempel di otakku.

“Aku setuju.” Langit tersenyum memperhatikan ekspresi Raras.

Jadi masih ada nama Wisnu di hidupmu?

 

Langit mengerjap beberapa kali saat pandangan mereka bertemu. Namun tak juga ia lepaskan pandangan dari mata dan senyum Raras yang dulu beberapa kali ia abadikan di atas secarik kertas. Langit menyimpan senyum di bibirnya.

Sepasang mata yang biasanya menatap tajam itu kini memantulkan sorot puja yang lugu, tak luput tertangkap mata Raras.

Ah, seandainya dulu aku tahu. Mungkin sebelum ada Wisnu. Atau sesudah Wisnu pergi. Sekarang…?

 

Mangkoknya yang kini kosong tidak memberikan pilihan lain bagi Langit selain untuk memperhatikan Raras menghabiskan isi mangkoknya. Atau, ia bisa memutar kepala ke arah lain, mencari fokus perhatian baru.

Raras melirik Langit, menemukannya sedang menatap sepeda motor yang terparkir di luar warung. Bibirnya masih menyimpan senyum rahasia.

Bagaimana reaksiku jika tiba-tiba ia mengutarakan sesuatu? Apa jawabanku? Apakah aku sudah siap?

 

Langit memperhatikan sepasang kekasih menaiki sepeda motor tersebut, kemudian melesat pergi dari situ. Hatinya masih hangat, sisa percikan adu pandang dengan Raras tadi.

Tapi tidak ada lagi kembang api yang dulu biasa meletup-letup menjalari dada saat menatapnya. Mungkin perayaan itu sudah usai. Mungkin rasa itu sudah berlalu.

 

“Udah selesai, Ras?” Langit memperhatikan temannya merapikan sendok dan garpu, menyeka mulutnya dengan kertas tisu warna kuning.

Selesai. Kini kita lanjutkan dengan kisah baru.

————

Di sebuah ruang kantor di pusat kota Jakarta, seorang pria tengah menatap layar ponselnya.

Baik. Sedang menjalani hidup dengan ‘gelas setengah penuh’, seperti kamu bilang!

Sudah tiga kali ia melafalkan kalimat itu dalam hati, seakan-akan kurang paham bahasa Indonesia.

Sedang berbagi gelas dengan siapa kau, nduk?

 

Namun urung mengetikkannya.

(Fragmen dari kisah yang tak selesai)

Sketsa Raras-sebuah nukilan

Sketsa Raras-sebuah nukilan

Menghirup teh pagiku, kuaktifkan winamp dengan playlist favoritku musim ini. Swing jazz sedang merasuki hatiku beberapa bulan ini. Helps me to relax. Terutama karena aku tengah kembali bertungkus lumus dalam sebuah proyek baru.

……

love aint the answer and nor is work
the truth that hurts me, so much it hurts
but i’m still having fun and i guess that’s the key
i’m a twenty something and i’ll keep being me

Aku terlalu tua untuk menyandang gelar twenty-something (lebih sesuai twenty-going –on-thirty), tapi kenapa Jamie Cullum seperti bernyanyi untukku?

(Sebuah kelahiran yang tertunda)